Riska Octaviya Dwi Payanti

Sabtu, 02 Februari 2013 | 0 comments

Ini malam yang aneh. Rasanya mendadak galau memikirkan yang sebenarnya terjadi pada perasaan saya. Ga ada penyebab apa-apa, tapi tiba-tiba sedih. Ini bukan kali pertama saya merasakan seperti ini. Rasanya ingin menuliskan semua nya. Semua unek-unek buat kalian, teman-teman dan kamu. Tapi saya sadar dan tau diri, saya bukan seseorang yang pandai merangkai kata dan menuliskan nya disini. Mengingat kejadian sebulan yang lalu, sedih. Kembali mengingat semuanya. Iya, awal dari perubahan kita, awal dari perubahan diri saya yang mendadak kamu bilang jahat. Tidak apa-apa. Mulai dari hari itu juga, seperti ada cahaya yang membantu saya menemukan jalan dimana saya harus bertindak. Seperti ada seseorang yang berusaha untuk menghipnotis saya dan men-sugestikan bahwa saya harus tetap bertahan walaupun segitu disakitin nya. Saking terbodohi nya pun, telinga saya seperti ditutup ketika akan mendengar keburukan dari kamu. Tapi percayalah, saya tidak akan sebodoh dulu. Air mata saya terlalu berharga untuk saya jatuhkan setiap harinya hanya untuk memikirkan kamu yang dulu sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan saya. Saya tidak tau setan apa yang sedang merasuki tubuh saya skrg yang membuat saya tertarik untuk menuliskan ini. Mungkin karena sudah tidak punya seseorang lagi yang rela saya basahi pundaknya ketika punya perasaan seperti ini. Saya salah, saya bodoh. Kebodohan yang membuat saya harus kehilangan kalian semua. Kalian, yang dulu mewarnai hari-hari saya. Kadang, saya merindukan kegaduhan dari tawa kalian, kegaduhan dari candaan kalian, sikap kalian. Tapi.......ah, sudahlah. Saya percaya, tuhan memberikan cobaan kepada semua umat nya itu merata, dengan takaran yang sama, adil dan tidak diluar batas kemampuan umatnya. Ada maksud tertentu dibalik ini, ada sesuatu yang indah yang belum saya temukan skrg. Dibalik semuanya, saya tersadar bahwa saya tidak benar-benar sendiri. Tuhan tetap menciptakan 'malaikat tanpa sayap' untuk saya. Malaikat yang rela saya jadikan tempat untuk mengadu kesedihan saya, yang kembali memberi warna untuk kehidupan berharga saya. Bukan berusaha mencari pelarian, karena seseorang yang sedang sedih itu selalu butuh teman untuk mencurahkan isi hati nya, bukan? Saya tidak menaruh harapan berlebih pada seseorang yang saya sebut 'malaikat tanpa sayap' itu akan terus menemani hari-hari saya. Sesungguhnya saya sedang butuh teman yang benar-benar teman. Yang mau menerima saya. Teman lama pun tidak masalah. Mungkin saya belum melakukan yang terbaik yang membuat kembali menarik hati kalian. Saya hanya butuh kesempatan kedua untuk kalian mengerti saya lagi. Semua orang berhak mendapat kesempatan kedua, kan? Seperti saya, manusia biasa yang tidak pernah tidak melakukan kesalahan. Ketika saya mulai lelah akan semuanya dan merasa menjadi orang ter-malang di kalangan anak seusia saya, seseorang kembali menyemangati dan memotivasi bahwa diluar sana mungkin masih banyak orang yang mengalami seperti saya skrg. Hidup terlalu berharga jika hanya dipergunakan dan disibukkan untuk memikirkan orang-orang yang tidak mempedulikan kita dan orang-orang yang hanya sirik akan segala yang kita miliki.